Selasa, 26 Oktober 2010

Tari Maengket & Kabasaran

Tari Maengket

Maengket adalah tarian tradisional orang minahasa dari zaman dahulu kala sampai saat ini masih terus berkembang dan dilestarikan. Tarian ini sudah ada di tanah minahasa sejak orang minahasa mengenal pertanian terutama padi di ladang.
kalau dulu nenek moyang minahasa, tarian maengket hanya dimainkan pada waktu panen padi dengan gerakan-gerakan yang hanya sederhana, maka saat ini tarian ini telah berkembang teristemewa bentuk tarinya tanpa meninggalkan keasliannya terutama syair/sastra lagunnya. tarian maengket ini terdiri dari tiga babak, yaitu maowey kamberu, marambak dan lalayaan.
Maowey kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan sebagai bentuk pengucapan syukur kepada Tuhan yang maha esa, karena hasil panen diladang/ di kebun yang berlimpah.
Marambak adalah tarian dengan semangat mapalus (gotong royong), dalam hal ini orang mihanasa jika akan membangun rumah selalu bekeraja sama. dan setelah rumahnya selesai di bangun maka akan diadakan “rumambak” atau pesta naik rumah baru. dan semua penduduk di desa di undang untuk naik kerumah untuk menguji kekuatan rumah tersebut.
Lalayaan  adalah sebuah tari pergaulan pemuda dan pemudi minahasa yang pada zaman dahulu digunakan untuk mencari jodoh…. 


Tari Kabasaran



Tari Kabasaran
Menari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai.
Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.
Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut “Pa ‘ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.